Sejarah

KAUM SABA’

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri, (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS Saba’ [34]: 15-17).

Kaum Saba’ termasuk satu dari empat peradaban besar di Arabia Selatan. Mereka hidup sekitar 1000 SM sampai 750 SM. Keberadaan kaum Saba’ dibuktikan dengan ditemukannya beberapa prasasti yang menyebut nama mereka. Prasasti tertua berupa catatan perang tahunan raja Asiria Sargon II. Di dalamnya tercatat bangsa-bangsa yang membayar pajak kepadanya, salah satunya Yith’i-amara (It’amara), Raja Saba’.

Pada masanya, Saba’ layak disebut negara modern. Ada dua hal yang mendukung hipotesis ini. Pertama, dikuasainya teknologi perairan. Mereka mampu membangun sebuah bendungan setinggi 16 meter, lebar 60 meter dan panjangnya 620 meter. Berdasarkan perhitungan, bendungan ini mampu mengairi 9.600 hektar lahan. Perinciannya, 5.300 hektar di sebelah Selatan dan sisanya di sebelah Barat. Alquran menyebut dua dataran ini sebagai “dua kebun di sisi kiri dan kanan”. Keberadaan bendungan ini dibuktikan oleh Holevy dan Glaser.

Berkat bendungan dan sistem pengairan yang canggih, daerah ini menjadi kawasan paling menghasilkan di Yaman. Diceritakan Imam Qatadah. Ada seorang ibu berjalan di bawah pepohonan yang berbuah. Di atas kepalanya terdapat keranjang, dan keranjang inilah yang “memetiki” buah. Ibu itu tidak perlu repot-repot memetik dengan tangannya. Karena buah di atas kepalanya sangat banyak, matang dan bagus. Tanpa disentuh tangan buah-buah itu berjatuhan ke dalam keranjang.

Kedua, kuatnya militer. Negara Saba’ memiliki angkatan bersenjata yang sangat kuat. Bahkan, Mesir yang dikuasai Romawi pun dapat ditaklukan. Sebuah ungkapan dari komandan tentara Saba’ diabadikan Alquran. “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan ber-ada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan” (QS An Naml [27]: 33).

Kehancuran Negeri Saba’

Sayangnya, masa kejayaan kaum Saba’ tidak berlangsung lama. Allah SWT menghancurkan mereka dengan mengirimkan “sail al-arim“. Yaitu banjir akibat jebolnya bendungan ini. Kata “arim” diturunkan dari kata “arimen“. Dalam dialek Arab Selatan, kata ini berarti “bendungan” atau “rintangan”. Demikian penjelasan Al Maududi.

Hancurnya bendungan yang mengakibatkan banjir meluluhlantakkan negeri Saba’. Kebun-kebun mereka rusak berat. Allah SWT kemudian menggantinya dengan dua kebun yang ditumbuhi pohon-pohon berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr (pohon yang berduri banyak dan berbuah sedikit) (QS Saba’ [34]: 16).

Mengapa Allah menghancurkan mereka? Menurut Ibnu Katsir ada dua sebab hancurnya negeri Saba’. Pertama, setelah mendapat karunia melimpah, mereka berpaling dari Allah. Ibadah yang asalnya ditujukan kepada Allah, beralih kepada penyembahan matahari. Mereka menganggap semua kemudahan dan kesejahteraan sebagai jerih payah mereka, bukan anugerah Allah. Dengan kata lain, mereka mengkufuri nikmat Allah SWT

Kedua, mereka bersikap sombong.Terjaminnya keamanan, negeri-negeri yang berdekatan, banyaknya pepohonan, tanaman palawija dan buah-buahan yang menjadikan mereka tidak akan kehabisan makanan saat melakukan perjalanan, menjadikan mereka “besar kepala”. Dengan congkaknya mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah perjalanan kami,” (karena kami pasti akan sampai ke sana tanpa hambatan apa pun) (QS Saba’ [34]:19),

Pelajaran dari Kaum Saba’

Saba’ termasuk potret ideal sebuah negeri. Setiap orang pasti berharap tinggal di negeri yang makmur, sumber daya alamnya melimpah, pemandangannya indah serta terjamin keamanannya seperti negeri Saba’.

Bukan rahasia lagi kalau sebagian ciri negeri Saba’ dimiliki negeri kita. Ada ungkapan menarik yang disampaikan Dr. ‘Aidh Al Qarni saat berkunjung ke Indonesia, “Kalau saja saya berkunjung ke sini sebelum menulis buku La Tahzan (Jangan Bersedih), niscaya saya tidak akan menulis buku ini. Saya akan menganjurkan Anda untuk datang saja ke Indonesia”. Subhanallah.

Namun, anugerah ini akan dicabut oleh Allah SWT tatkala kita bersikap seperti kaum Saba’. Hikmahnya, jangan-jangan bencana alam yang sering terjadi adalah peringatan sekaligus adzab dari Allah SWT. Bisa jadi, itu terjadi karena kita semakin berpaling dari-Nya, lupa terhadap kehendak-Nya. Atau bisa jadi, karena tanpa disadari kita mulai “menduakan” Allah SWT. Semoga bukan karena itu. Amin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s