Kisah dan Cerita / Romantika

KEJUJURAN PALING JUJUR

Beberapa saat sebelum Rasulullah meninggal, terdapat pengaruh yang luar biasa pada jiwa, saat-saat Rasulullah akan berangkat meninggalkan dunia yang fana ini.

Sebelm wafat, Nabi saw menunaikan ibadah haji yang disebut dengan haji wada’, ketika ibdah itu sedang berlangsung, turunlah firman Allah: “Pada hari ini telah Aku cukupkan bagimu agamamu dan telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku telah rela Islam sebagai agamamu”.(al-Mâidah[5]: 3), Abu Bakar menangis, lalu ada yang bertanya kepadanya: Apa yang membuat Anda menangis mendengar ayat ini? Dia berkata: Ayat ini sangat erat hubungannya dengan kepergian Rasulullah saw. setelah itu Rasulullah pun kembali dari haji wada’, sembilan hari sebelum beliau meninggal, turunlah ayat terakhir: “Dan peliharalah diri kalian (dari azab yang akan terjadi) pada suatu hari, pada waktu itu kamu semua akan dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri akan diberi balasan terhadap apa yang dikerjakannya, dan sedikit pun mereka tidak akan di rugikan”.(al-Baqarah[2]:281).

Setelah itu Rasulullah saw mulai sakit, lalu dia berkata: “Aku ingin menziarahi para syuhada yang gugur di Uhud”, dia pun diantar dan berdiri diantara kuburan para syahid yang ada, dia berkata: “Keselamatan kalian wahai para syahid Uhud, kalian telah lebih dulu berangkat, dan insya Allah kami akan mengikuti jejak kalian, dan sesungguhnya aku tidak lama lagi akan mengikuti kalian”, ketika kembali dari Uhud, Rasulullah saw menangis, lalu para sahabat bertanya: Apa yang membuat engkau menangis wahai Rasulullah? Dia menjawab: “Aku sangat rindu ingin bertemu dengan saudara-saudaraku”, para sahabat berkata: Bukanlah kami ini merupakan saudara-saudara engkau wahai Rasulullah? Dia menjawab: “Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudara yang aku maksud itu adalah kaum yang akan dilahirkan setelah kepergianku, mereka beriman kepadaku, padahal mereka tidak pernah bertemu denganku”.

Tiga hari sebelum meninggal, sakit yang didertia oleh Rasulullah semakin berat, ketika itu dia berada dirumah Maimûnah, dia berpesan: “Kumpulkanlah isteri-isteriku”, para isteri beliau yang suci pun berkumpul, lalu Nabi saw bertanya: “Apakah kalian mengizinkan aku untuk pindah ke rumah ‘Aisyah”?, mereka berkata: Kami telah memberi izin dengan ikhlas wahai Rasulullah.

Rasulullah hendak berdiri, namun tidak sanggup, maka datanglah ‘Ali Bin Abi Thâlib dab Fadhl Bin ‘Abbâs ra, mereka berdua memapah Rasulullah dari kamar Maimûn ke kamar ‘Aisyah, ini merupakan kali yang pertama para sahabat melihat Rasulullah saw di angkat oleh para sahabatnya, setelah itu, para sahabat berkumpul, dan mereka bertanya-tanya: Apa yang terjadi pada diri Rasulullah, apa yang terjadi pada Rasulullah, para sahabat mulai berkumpul dan memenuhi masjid, dan Rasulullah dipindahkan ke kamar ‘Aisyah, dari pori-pori Rasulullah keluar keringat yang tidak bisa dibendung, ‘Aisyah berkata: Sepanjang hidupku, aku belum pernah melihat seseorang yang lebih banyak keringatnya dari Rasulullah, dia memegang tangan Rasulullah dan menyapukan keringatnya, dan tidak menyekanya dengan tangannya sendiri, ‘Aisyah berkata: Sesungguhnya tangan Rasulullah lebih baik dan mulia dari tanganku, oleh sebab itu aku menyapu keringatnya dengan tangannya, bukan dengan tanganku, ini merupakan penghargaan ‘Aisyah kepada Nabi saw.

‘Aisyah menceritakan, dan dengarlah baik-baik apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw: “Lâ Ilâha Allallâh, sesungguhnya kematian itu mempunyai sesuatu yang membuat seseorang mabuk, Lâ Ilâha Allallâh, sesungguhnya kematian itu mempunyai sesuatu yang membuat seseorang mabuk”, karena mendengar kalimat itu, suara dalam masjid semakin terdengar, lalu Nabi saw bertanya: “Suara apa itu?”. ‘Aisyah berkata: Sesungguhnya para sahabat sangat khawatir terhadap engkau wahai Rasulullah, dia berkata: “Kalau begitu bawalah aku kepada mereka”, dia berusaha berdiri, tetapi tidak mampu, para sahabat memercikkan air ke tubuhnya sebanyak tujuh kali agar kembali sadar, setelah itu baru Nabi dibawa kedalam masjid dan diantarkan keatas mimbar, ini merupakan khutbah Rasulullah yang terakhir, dia berpesan: “Wahai manusia, tampaknya kalian sangat khawatir terhadapku”, mereka menjawab: Benar wahai Rasulullah, lalu Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, pertemuan kalian denganku bukan di dunia, kita akan bertemu di telaga, demi Allah, sekarang seolah-olah aku melihatnya dari tempatku ini, wahai manusia, demi Allah, aku tidak khawatir terhadap kemiskinan yang akan menimpa kalian, tetapi aku lebih mengkhawatirkan dunia, bila kalian memperebutkannya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum-kaum sebelum kalian, dengan demikian kalian akan binasa sebagaimana mereka telah dibinasakan”, kemudian dia berpesan: “Wahai manusia, hati-hatilah kalian terhadap wanita, dan didiklah mereka dengan baik”, kamudian dia berpesan: “Wahai manusia, ada seorang hamba yang disuruh pilih oleh Allah antara dunia dan apa yang disediakan di sisi-Nya, lalu dia memilih apa yang ada di sisi Allah”, tidak seorang pun sahabat yang mampu memahami siapa gerangan hamba yang dimaksud oleh Rasulullah, padahal sebenarnya yang dia maksud adalah dirinya sendiri yang telah dipilih oleh Allah, tidak ada yang mampu memahaminya selain Abu Bakar, dan kebiasaan para sahabat, ketika Rasulullah menyampaikan pesan-pesannya, mereka diam dan tidak ada yang berbicara, seolah-oleh dikepala mereka ada burung yang sedang hinggap, Abu Bakar mendengar ucapan Rasulullah saw, dia tidak mampu menguasai dirinya sendiri, dia menangis dan suaranya menyeruak ditengah-tengah kumpulan para sahabat yang memenuhi masjid, dia berkata: Wahai Rasulullah, kami menjaminkan ayah, ibu, anak-anak, isteri-isteri dan harta kekayaan kami, kalimat-kalimat ini dia ulang-ulangi, orang banyak pun berpaling melihat Abu Bakar (kenapa dia memotong pembicaraan Rasulullah), maka Rasulullah saw bersabda: “Wahai manusia tidak seorang pun diantara kalian yang mempunyai keutamaan dan keistimewaan, melainkan sudah kami berikan balasan yang setimpal kepadanya, kecuali Abu Bakar, aku tidak mampu membelasi kebaikannya, aku serahkan balasannya kepada Allah swt, semua pintu menuju masjid telah tertutup, kecuali pintu Abu Bakar, pintunya tidak pernah tertutup untuk selam-lamanya”.

Kemudian Rasulullah mulai berdo’a yang sekaligus merupakan do’a-do’a terakhir yang dia sampaikan sebelum berpulang ke rahmatullah: “Kiranya kalian akan selalu diberi tempat tinggal oleh Allah, aku berdo’a agar kalian selalu dipelihara oleh Allah, aku berharap agar kalian selalu mendapatkan pertolongan dari Allah, aku berdo’a agar kalian selalu ditetapkan oleh Allah dan disokong serta selalu dipelihara-Nya”, dan kalimat terakhir yang dia sampaikan kepada semua umatnya sebelum turun dari mimbar adalah: “Wahai manusia, sampaikanlah salamku kepada orang-orang yang mengikuti aku hingga hari kiamat datang”, kemudian, dia kembali dibawa ke kamarnya.

Ketika dia sudah berada dalam kamar, ‘Abdur-Rahmân Bin Abu Bakar masuk, dia memegang siwak, Nabi terus memandang siwak itu, tetapi dia sudah tidak mampu mengatakan “Aku ingin siwak itu”, ‘Aisyah berkata: Dari pandangan Rasulullah itu, aku memahami bahwa dia menginginkan siwak, siwak yang dipegang oleh ‘Abdur-Rahmân itu aku –‘Aisyah- ambil, kemudian digigit agar lebih lembut, kemudian aku serahkan kepada Rasulullah, maka sesuatu yang terakhir yang masuk kedalam mulut Rasulullah adalah ludahku (‘Aisyah), dia berkata: Diantara karunia Allah yang sangat besar kepadaku adalah, Dia telah menyatukan antara ludahku dan ludahnya sebelum dia berpulang ke rahmatullah.

Setelah itu, putrinya Fathimah datang, tatkala masuk ke kamar itu dia menangis, dia menangis karena biasanya setiap kali datang menemui Rasulullah, Rasulullah pasti berdiri dan mencium keningnya, tetapi sekarang, dia tidak mampu berdiri meyambutnya, Rasulullah berkata kepadanya: “Wahai Fathimah, mendekatlah kepadaku”, Rasulullah berbisik kepadanya, lalu Fathimah menangis, kemudian Rasulullah berkata kepadanya: “Wahai Fathimah, mendekatlah kepadaku”, maka Fathimah tersenyum, setelah Rasulullah saw berpulang ke rahmatullah, para sahabat menanyakan kejadian itu kepadanya, dia berkata: Rasulullah berkata kepadaku: “Wahai Fathimah, pada malam ini aku akan dipanggil oleh Allah”, lalu aku menangis, kemudian Rasulullah berkata kepadaku: “Wahai Fathimah, kamu adalah keluargaku yang pertama yang akan bergabung denganku”, maka aku pun tersenyum.

Setelah itu Rasulullah berkata: Sekarang tiggalkanlah aku, dia berkata: “Wahai ‘Aisyah, mendekatlah kepadaku”, Rasulullah saw tertidur dalam pelukan ibunda ‘Aisyah, ‘Aisyah berkata: Dia mengangkat tangan ke langit dan berkata: “Aku lebih memilih bertemu dengan Allah, aku lebih memilih bertamu dengan Allah”, dari ucapannya, ‘Aisyah memahami bahwa Rasulullah disuruh pilih antara dunia atau berpulang ke rahmatullah.

Tidak lama kemudian malaikat Jibril datang kepada Nabi, dia berkata: “Ada malaikat maut di pintu, dia minta izin masuk, dan dia tidak pernah minta izin kepada siapa pun sebelum engkau”, maka Nabi berkata kepada Jibril: “Izinkanlah dia masuk wahai Jibril”, malaikat maut itu pun masuk dan berkata: Keselamatan atas engkau wahai Rasulullah, Allah telah mengutus aku dan berpesan apakah engkau akan memilih dunia atau bertemu dengan Allah, maka Nabi berkata: “Aku lebih memilih Allah, aku lebih memilih Allah”, malaikat maut itu berdiri di bagian kepala Nabi, sebagaimana dia akan berdiri dikepala masing-masing kita, dia berkata: Wahai ruh yang baik, ruh Muhammad Bin ‘Abdullah, keluarlah menuju keridhaan Allah, kepada keridhaan, dan Allah telah rela, Allah tidak marah dan tidak murka.

‘Aisyah berkata: Tangan Nabi mulai tak berdaya dan kepalanya terasa berat dalam pelukanku, ketika itulah aku menyadari bahwa dia telah berpulang ke rahmatullah, ‘Aisyah berkata: Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan, aku hanya mampu keluar dari kamar menuju masjid dan disana banyak sahabat, aku berkata: Rasulullah sudah berpulang ke rahmatullah, Rasululah telah berpulang ke rahmatullah, Rasulullah telah berpulang ke rahmatullah, masjid yang dipenuhi oleh para sahabat berada dalam keheningan itu, akhirnya berubah menjadi sedih dan tetesan airmata, ‘Ali Bin Abi Thâlib sampai disuruh duduk oleh sahabat-sahabat yang lain karena mendengar berita ini, ‘Utsmân Bin ‘Affân seperti anak kecil, berjalan ke kiri dan ke kanan, sementara ‘Umar Bin Khaththâb berkata: Siapa yang mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggal, akan aku pengal lehernya dengan pedangku ini, dia hanya pergi untuk bertemu dengan Tuhannya, sebagaimana Mûsâ pergi bermunajat dengan Tuhannya, sementara Abu Bakar ra adalah orang yang paling kokoh pendirian, dia mendatangi Nabi, dia dekap jenazahnya dan berkata: Wahai saudaraku, wahai kekasihku, wahai ayahku, dia cium jenazah Nabi, dan berkata: Kehidupan engaku sangat baik dan kepergian engkau juga sangat baik, kemudian Abu Bakar ra keluar menemui para sahabat dan berkata: Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah berpulang ke rahmatullah, dan siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Dia kekal dan tidak pernah mati, setelah itu aku keluar untuk menumpahkan tangis dan rasa sedih, aku sengaja mencari tempat untuk menangis sendiri.

Inilah kesudahannya, semua orang yang mendengar dan dihatinya ada rasa cinta kepada Nabi, maka sepatutnyalah dia memperkokoh cintanya dengan empat perkara:

1. Dengan memperbanyak shalawat kepadanya.

2. Ziarah ke Madinah.

3. Mengikuti sunnahnya.

4. Mempelajari sirahnya.

Lakukanlah yang empat perkara ini, niscaya rasa cinta Anda kepada Nabi akan selalu bertambah, sehingga dia akan menjadi orang yang paling Anda cintai melebihi cinta Anda kepada anak, harta dan keluarga Anda, bahkan lebih Anda cintai dari semua manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s