Kisah dan Cerita / motivasi / The Da Vinci Code

DAN “THE DA VINCI CODE” BROWN

Susah mencari kata yang tepat untuk melukiskan sihir novel The Da Vinci Code. Selain laris manis dan dipuja-puji, buku ini juga menuai kontroversi di kalangan umat Katolik. Di luar kritik pedas Vatikan,
hampir selusin buku telah dibuat untuk menghujat, mengritik, maupun sekadar membonceng popularitas Brown.

Sampai 2005, The Da Vinci Code sudah diterbitkan dalam 44 bahasa. Film ayar lebarnya pun sedang diputar di bioskop-bioskop di seluruh dunia, engan Tom Hanks berperan sebagai Robert Langdon, tokoh jagoan dalam novelnya.

Pada tahun pertama, novel The Da Vinci Code laku 6,5 juta eksemplar (di Amerika Serikat saja), dan melonjak menjadi lebih dari 10 juta eksemplar di penghujung tahun kedua. Keberuntungan sang penulis tak berhenti sampai di situ. Sejak “Kode Da Vinci” meledak, penggemarnya mulai mencari tiga novel Brown sebelumnya.
St. Martin’s Press (penerbit novel Digital Fortress), Simon & Schuster (penerbit Angels & Demons dan Deception Point), bak ketiban durian runtuh. Buku-buku yang nyaris “masuk museum” itu tiba-tiba dipesan banyak orang, bahkan merangsek masuk daftar buku laris (best seller). Tak heran kalau dalam daftar 100 Selebritis 2005 versi Majalah Forbes, Dan Brown sanggup menyeruak hingga posisi 12. Forbes memperkirakan, doku di saku Brown kini tak kurang dari AS $ 76,5 juta.

Padahal, kalau saja penjualan The Da Vinci Code tidak meledak di pasar, barangkali justru kepala Dan Brown-lah yang bakal “meledak”. Tiga novelnya terdahulu hanya bertiras di bawah lumayan, sehingga kepiawaian Brown menjual kata-kata mulai diragukan penerbit. Beruntung, ia berhasil memecahkan “kode rahasia” Leonardo Da Vinci di saat yang tepat.

10 Kali Lebih Rinci
Selain kedua orangtuanya, Dan Brown menyebut istrinya, Blythe Newlon, sebagai orang paling berpengaruh dalam kehidupannya. Brown menggambarkan Blythe sebagai perempuan cerdas, lucu, kreatif, cantik, terbaik, dan tidak pernah membiarkannya gagal melakukan sesuatu. “Blythe juga bisa
melukis dan memasak selagi aku menulis, rekaman, atau mengajar.”

“Aku senang, Blythe mau ikut ke New Hampshire. Kami lalu menukar BMW dan Mercedes dengan beberapa sepeda gunung untuk kembali ke realitas sebelumnya. Aku tak sabar, dan merasa sudah benar-benar siap untuk berubah,” kenang Brown. Selain menyukai musik, keduanya punya minat yang
sama pada sejarah seni. Blythe juga tenaga humas yang handal. Ketika album-album Brown dikeluarkan, Blythe-lah yang mengatur promosi dan membuat janji wawancara dengan wartawan.

Brown juga tidak pernah melupakan jasa sobat-sobat lamanya semasa “susah” dulu. Semisal editor Jason Kaufman yang mengajaknya hijrah ke Doubleday. Atau pustakawan Stan Planton yang selalu setia membantu Brown memecahkan informasi-informasi dan kode-kode rumit. Tak ketinggalan, dia juga “berterima kasih” pada orang-orang yang selama ini menjadikan The Da Vinci Code sebagai wacana kontroversi. Masuk dalam kategori ini, mereka yang membuat buku untuk mengomentari “kode Da
Vinci” versi Brown, seperti Breaking the Da Vinci Code (karangan Darrell L. Bock), The Da Vinci Deception (Erwin W Lutzer), Cracking Da Vinci’s Code (James L. Garlow dan Peter Jones), dan The Da Vinci Hoax (Sandra Miesel dan Carl Olson).

Brown bahkan sempat menunda penerbitan novel kelimanya, The Solomon Key, karena tidak ingin diserbu lagi oleh buku-buku sejenis. Dia tak sedang butuh uang atau popularitas, sehingga punya banyak kesempatan untuk memeriksa kembali naskah novel terbarunya, agar fakta-fakta yang
disampaikan lebih terjaga. Dia ingin The Solomon Key 10 kali lebih teliti dari The Da Vinci Code.

Andalkan Delete dan Push Up

Kecakapan menulis berkembang seiring jam terbang. Dan Brown merasakan hal itu. Ketika membuat esai pertamanya di SMU, Dan memilih topik Grand Canyon. Dia melukiskannya dengan kata sifat yang tiada habisnya. Brown merasa telah membuat tugasnya dengan sangat indah. Tapi gurunya malah mengembalikan tugas itu dengan banyak catatan bertinta merah. “Dia menghapus 90% kata sifatku dan memberi nilai C minus. Di bagian atas kertas tertulis “Simpler is better,” cerita Brown.

Nasihat itu rupanya sangat berkesan di hati Brown. Setelah sukses dengan The Da Vinci Code, ia selalu memberi tahu orang yang mewawancarainya, bahwa kunci suksesnya dalam bercerita adalah banyak menggunakan tombol delete di komputer. Sedangkan penulis yang sangat disukai Brown kecil adalah Madeleine L’Engle. Lewat novelnya, A Wrinkle in Time, Madeleine menjadi orang pertama yang memperkenalkan Brown pada dunia mistis dan petualangan lewat tulisan.

Brown biasa menulis pada dini hari. Awalnya, dia melakukan itu lantaran terpaksa, karena itulah satu-satunya waktu luang. Namun lama-kelamaan, dia jadi kecanduan. “Kalau tidak berada di kursi pada jam empat atau empat tiga puluh pagi, aku merasa benar-benar kehilangan saat-saat yang paling baik dan paling kreatif di hari itu,” Brown berujar.

Ketika tidur, pikiran menjadi sangat kreatif. Jadi, saat bangun, Brown punya banyak ide untuk dituliskan. Dia juga menjaga agar ide-ide tetap mengalir selama berjam-jam menulis dengan bantuan sejumlah alat kerja. Salah satunya, sebuah jam pasir antik di atas meja, untuk mengingatkan kapan waktu beristirahat.
Guna menjaga agar tekanan darah tidak turun terlalu jauh, Dan melakukan sit-up dan push-up beberapa kali. Kalau sit-up dan push-up masih kurang, ia akan memakai sepatu boot kesayangannya, lalu naik ke rak dan bergantung naik turun selama beberapa kali. Cara ini menambah aliran darah ke kepala.
“Membuatku bisa melihat dunia dalam perspektif berbeda. Sering kali aku dapat memecahkan persoalan sulit saat turun-naik,” tutur penyuka karya-karya Jeffrey Archer, Robert Ludlum, dan Sydney Sheldon itu.

SENANG KODE DAN SIMBOL

Bicara soal kode rahasia, Dan Brown memang jagonya. Bukan hanya dalam The Da Vinci Code ia bicara soal simbol-simbol tersembunyi. Tiga karya Brown sebelumnya pun diilhami sesuatu yang buat awam masih menjadi misteri. Tengok saja Digital Fortress yang terilhami kerja agen rahasia dalam memecahkan kode-kode lalu lintas informasi warga biasa. Atau Angels & Demons, yang idenya muncul dari kanal di lingkungan Vatikan.

“Aku dibesarkan di sebuah keluarga yang menganggap teka-teki dan kode sebagai bagian dari cara kami bersenang-senang. Saat pagi di hari Natal, ketika anak-anak lain mendapati hadiah mereka di bawah pohon Natal, aku dan saudara-saudaraku malah menemukan peta harta karun dengan kode-kode
yang harus kami ikuti dari kamar ke kamar. Bagiku, kode-kode itu menyenangkan,” jelas Brown, yang lahir di Exeter, New Hampshire, Amerika Serikat, 22 Juni 1964.

Keluarga besar Brown tumbuh dan berkembang “berlandaskan” tiga pilar: matematika, musik, dan bahasa. Sang kepala keluarga, Richard G. Brown, adalah jagoan matematika yang mengajar di Philips Exeter Academy. Sedangkan ibunya pianis gereja, yang selalu mengingatkan pentingnya nilai-nilai religi buat Brown dan adik-adiknya, Valerie (lahir 1968) dan Gregory (1975). Bermodal tiga pilar itu, Brown kecil jadi punya banyak bakat. Benih keterampilan menulis datang dari Richard, yang beken sebagai penulis pendamping serial buku pelajaran matematika populer, buku pelajaran anjuran untuk seluruh sekolah di AS. Sedangkan naluri bermusik datang dari ibunya. “Kreativitas sangat dihargai dalam keluarga kami. Aku selalu tertantang melakukan sesuatu yang kreatif,” Dan menambahkan.

Selain bermain kode di dalam rumah, Brown remaja juga mendapati kenyataan, Exeter punya banyak sekali klub klandestin (senang sembunyi). Mereka punya tradisi klub persaudaraan dan kelompok rahasia. Salah satu kelompok yang sangat ngetop di Exeter adalah “Improved Order of Red”, yang berawal dari perkumpulan “Sons of Liberty” (1765). Jumlah anggotanya sempat mencapai 500 ribuan orang pada 1930-an. Kini pengikutnya sekitar 30 ribuan orang.

Perkumpulan-perkumpulan rahasia lainnya yang sudah aktif di Exeter sepanjang abad ke-19 dan ke-20 adalah “Independent Order of Odd Fellows”, “St. Albans Royalm Arcatum”, “Good Templars dan Knight of
Phytias”. Nyaris semua karakter kelompok itu sudah digambarkan Brown dalam novel-novelnya.

Dari umur 13 – 18 tahun, Brown bersekolah di Philips Exeter Academy. Meski berasrama di tengah kota, anak-anak akademi hidup bagaikan di dunia mereka sendiri. Orang luar nyaris tak ada dan tak pernah mau tahu kejadian di dalam asrama. Suasana itu makin memperkuat pemahaman Brown terhadap kerja perkumpulan rahasia. Toh tak ada yang menyangka, Brown – semasa sekolah dikenal sebagai siswa
lugu nan ramah – ternyata tergila-gila pada klub-klub rahasia. Susan Ordway, bekas teman sekelasnya bersaksi, “Ia bilang ingin meneruskan karier musiknya setelah lulus SMU nanti. Suaranya memang lumayan bagus. Makanya, saya kaget ketika ia menerbitkan Digital Fortress. Habis, dia enggak pernah menunjukkan ketertarikan pada perkumpulan rahasia.”

Enggan Disorot

Susan tak sepenuhnya salah. Setamat Philips Exeter Academy (1982) dan selulus kuliah di Amharst College, Brown memang sempat membeli synthesizer dan peralatan rekaman bekas. Dari synthesizer itulah ia “menemukan” suara ragam binatang, lalu digubahnya musik pendek berisi suara kodok, gajah, angsa, dan tikus. Lagu-lagu itu direkamnya dalam kaset bertajuk SynthAnimals, yang terjual beberapa ratus kopi saja. Tahun 1990, Brown mendirikan perusahaan rekaman Dalliance, dan menerbitkan album “Perspective”. Namun seperti kaset pertama, album ini pun cuma terjual beberapa ratus kopi. Tahun 1991, Dan pindah ke Los Angeles, agar dekat dengan industri musik Hollywood. Untuk menambah penghasilan, ia mengajar bahasa Spanyol.

Harapan Brown menggembung saat dia bergabung dengan National Academy of Songwriters (NAS), yang didukung sejumlah nama tenar, seperti Prince dan Billy Joel. Di NAS, Brown mendapat sokongan penuh untuk membuat album atas namanya sendiri. Dia dimanajeri Blythe Newlon, direktur pengembangan artistik NAS. Sederet pekerja profesional dilibatkan dalam album Dan, yang suara dan gayanya dianggap mirip Shaun Cassidy atau Rex Smith (populer tahun 1970-an). Ada juga yang menyebut Brown the new
Barry Manillow. Sayangnya, Brown tampak belum siap masuk dalam hiruk pikuk industri musik Hollywood. Dia tidak tahan sorotan kamera. Dalam sebuah wawancara, Brown bilang hanya ingin menciptakan lagu, dan tidak ingin tampil di depan publik. Padahal, dia penyanyi pop, yang harus bisa menghibur orang jika ingin musiknya didengar. Untuk menjadi penyanyi sukses, nyaris mustahil jika hanya bercokol di studio rekaman.

Namun, Brown kadung menganggap citranya yang terpelajar berbeda dengan kaidah bisnis Hollywood. “Apakah aku pantas masuk MTV? Kayaknya enggak. Aku lebih cocok masuk ruang kelas,” ujarnya suatu ketika. Brown juga tersinggung, ketika sejumlah orang yang dianggapnya “tidak terpelajar” bilang lebih tahu apa yang terbaik untuk musik dan kariernya. Alih-alih meledak, CD album Dan Brown malah luluh lantak.

Tak tahan dengan situasi ini, pada 1993 Dan Brown resmi mundur dari NAS. Brown memutuskan meninggalkan Hollywood, kembali ke kampung halamannya di Exeter untuk menjadi penulis novel. Lebih mengejutkan, Brown pergi bersama manajernya, Blythe, yang tanpa diketahui banyak orang telah menjadi pacarnya. Blythe yang berusia 12 tahun lebih tua kelak menjadi Ny. Dan Brown. Di Exeter, sambil mengajar dan menulis novel, Brown masih sempat menyelesaikan utang CD keduanya, Angels & Demons. Album ini diluncurkan pada 1995, dua tahun setelah keluarnya Dan Brown. Di album ini, Brown lebih banyak bekerja dengan synthesizer. CD bertiras “biasa-biasa saja” ini sekaligus menutup mimpi Brown di blantika musik.

Promosi di Internet

Meski bercita-cita menjadi novelis, karya pertama Brown yang masuk toko buku justru buku humor mini
187 Men to Avoid, diluncurkan tahun 1995. Meski memakai nama samaran Daniella Brown, para pengamat percaya, Dan Brown-lah penulis aslinya. Sedangkan dalam The Bald Book, buku humor mini kedua yang keluar 1998, Dan meminjam nama istrinya, Blythe Brown. Novel pertamanya, Digital Fortress, baru mulai digarap pada 1996. Brown mengadakan riset tentang cara kerja National Security Agency (NSA) menyortir informasi, sehingga bisa tahu jika ada orang yang hendak membunuh Bill Clinton. Brown tertarik pada NSA, karena merupakan organisasi rahasia dengan 25.000 karyawan yang selalu bekerja dengankode-kode rumit dan kriptografi.

“Aku sangat beruntung. Editor pertama yang melihat novel itu langsung membelinya,” kenang Brown. Mungkin karena Digital Fortress membahas isu keamanan internet, yang saat itu cukup laku dijual. Dalam sebuah ceramah, Brown pernah diingatkan seorang peserta bahwa novelnya mungkin akan membuat Brown berada dalam pengawasan NSA. Saat itu Dan menjawabnya enteng, “Aku justru terkejut kalau tidak berada di bawah pengawasan mereka.” Beberapa pekan setelah acara itu, NSA mengundang Dan ke
markasnya.

Brown memelopori langkah-langkah promosi tidak lazim (saat itu), dengan membuat situs khusus untuk bukunya, menyebarkan informasi lewat e-mail, serta menerobos forum online dan milis-milis. Meski baru mulai melangkah, dia segera menyadari, dunia penerbitan buku jauh lebih menyenangkan daripada industri musik. Wawancara dengan pers pun berjalan lancar, karena ia hanya mempromosikan produk. Masalah pribadi Brown tetap aman dari sorotan orang. Begitu novel pertama selesai, Dan segera merencanakan novel kedua. Ide membuat Angels & Demons muncul ketika dia dan Blythe berkeliling di
Vatikan, tepatnya saat melewati sebuah terowongan, yang dikenal sebagai Il Passetto. Terowongan itu merupakan kanal rahasia, yang akan digunakan Paus jika Vatikan diserang.

Pemandu wisata menjelaskan, salah satu musuh Paus adalah kelompok Illuminati, yakni kumpulan ilmuwan yang mengancam Paus pada abad ke-17, karena Paus menghukum mati Galileo, Copernicus, dan ilmuwan lainnya. Sampai sekarang, kelompok itu konon masih ada. Ucapan si pemandu wisata kontan membangkitkan fantasi Brown. Dia pikir, akan sangat menarik jika novel berikutnya berkutat soal kelompok rahasia ini.

Angels & Demons diterbitkan bulan April 2000. Saat itu, Brown sempat tercengang ketika beberapa pembaca menuduhnya anti-Katolik dan atheis. Mereka juga menuduhnya lebih mencintai sains ketimbang agama. Tuduhan-tuduhan itu disangkalnya dengan tegas. “Aku tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan keduanya. Dalam banyak hal, aku melihat sains dan agama sebagai hal yang sama. Keduanya manifestasi pencarian manusia untuk memahami ketuhanan. Agama menyukai pertanyaan, sains menyukai
pencarian jawaban.” Sayangnya, angka penjualan dua novel tadi tak begitu bagus. Brown berusaha memperbaikinya ketika menggarap novel ketiga, Deception Point, yang berkisah seputar kejadian-kejadian rahasia di NASA. Di mata Brown, NASA adalah salah satu perkumpulan rahasia paling samar di dunia.

Setelah melakukan penelitian selama satu tahun, Deception Point akhirnya terbit pada Agustus 2001.
Tapi lagi-lagi, angka penjualannya jeblok.

Pindah ke Penerbit Lain
Kini Brown harus lebih dari sekadar serius dalam menentukan tema novel keempat. Ketika akhirnya ia teringat sebuah peristiwa penting yang terjadi beberapa tahun lalu. Peristiwa itu terjadi pada tahun pertamanya di Amherst College, saat dia mengambil program satu tahun belajar di Universitas Seville, Spanyol. Dari sanalah ide The Da Vinci Code berawal.

Ketika itu, dosen Spanyolnya dengan bantuan slide show menunjukkan berbagai anomali, pesan tersembunyi, dan lelucon yang dimasukkan Da Vinci ke dalam lukisan, patung, dan gambar-gambarnya. Mata Brown seolah terbuka. Tidak hanya terhadap pesan-pesan rahasia yang berusaha disampaikan Leonardo Da Vinci, namun juga terhadap kode-kode dan pesan-pesan yang sengaja dimasukkan dan jumlahnya sangat berlimpah.

Saat kembali ke Amharst, dia merasa telah mendapat sebuah “ilmu”, meski dia tidak yakin ilmu apa. Dia menyimpan ilmu itu untuk masa depan. Kini, Brown merasa, telah tiba saatnya ilmu itu “dikeluarkan”.
The Da Vinci Code, dengan jalan cerita berbelit-belit dan isinya yang padat, kerap membuat Dan buntu. Dia berhadapan dengan banyak sekali fakta sejarah. “Banyak sejarawan percaya, ketika menuntut keakuratan berbagai konsep menurut sejarah, sebaiknya kita terlebih dulu bertanya pada diri kita sendiri: menurut sejarah, seberapa akuratkah sejarah itu sendiri? Pada umumnya, kita tak ‘kan pernah mengetahui jawabannya. Tapi hal itu jangan sampai membuat kita berhenti bertanya,” Brown mengungkapkan pendiriannya.

Dia memprediksi, The Da Vinci Code akan berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Tidak hanya karena subjek bahasannya sensitif, tapi juga jumlah informasi dan fakta-fakta kabur yang ingin dia jejalkan ke dalam buku sangat banyak. Dia harus meriset banyak aspek berbeda dari semua data yang hendak disisipkan dalam narasi.

Namun, melihat dukungan kolega-koleganya di perkumpulan rahasia, pusing Brown sedikit reda. Setelah menulis tiga buku tentang perkumpulan rahasia, dia mendapat banyak teman di sana. Dia mengaku sangat kaget, melihat banyaknya orang yang ingin ngobrol untuk membicarakan dunia yang mereka sukai. Kebanyakan mereka ingin sekali menyampaikan sesuatu yang mereka ketahui.

“Pada akhirnya, The Da Vinci Code menggambarkan sejarah sebagaimana yang kupahami, setelah selama beberapa tahun melakukan perjalanan, riset, membaca, wawancara, dan eksplorasi,” cetus Brown. Di penghujung tahun 2001, sempat muncul spekulasi buku ini akan dicegah penerbitannya. Namun, Dan maju terus, termasuk ketika pihak penerbit mulai mempertanyakan potensi novel keempatnya.

Brown membalas keraguan itu dengan hengkang (bersama editornya) dari Simon & Schuster ke penerbit Doubleday. Akhir 2002, beberapa bulan sebelum The Da Vinci Code diluncurkan, muncul suara antusias dari sejumlah penjual buku. Begitu santernya suara antusias itu, Doubleday sampai melanggar tradisi, dengan meminta masukan Brown soal halaman muka dan desain visual lainnya. Doubleday lalu mencetak 10 ribu eksemplar edisi perkenalan, khusus untuk resensi buku dan pihak-pihak yang terkait dengan penjualan.

Hasilnya sangat positif, sehingga Doubleday langsung menjadwalkan cetakan pertama sebesar 230.000 eksemplar pada Maret 2003. Kritikus buku New York Times, Janet Maslin ikut membantu mendongkrak The Da Vinci Code dengan menulis, “Kata-katanya hebat. Dalam novel suspense ilmiah ini, Brown menggunakan format yang telah dikembangkannya melalui tiga novel awal dan menyelaraskannya dengan baik, sehingga menghasilkan cerita blockbuster yang sempurna.” Setelah itu, teman-teman Brown banyak yang menelepon, “Hei, apakah Maslin itu ibumu? Sebelumnya, dia tidak pernah memuji seperti itu.” Mendung tampaknya sedang berubah cerah. Pada hari pertama penjualan, The Da Vinci Code laku 6.000 eksemplar, melonjak sampai nyaris 24.000 eksemplar di penghujung minggu pertama. Minggu berikutnya, The Da Vinci Code menjadi best seller di Publishers Weekly, Wall Street Journal, dan New York Times.

Sejak itu, Brown tidak hanya berstatus penulis, tapi juga selebriti. Untuk menjaga privasi, dia mulai membatasi kontak dengan dunia luar dan berhenti terbang dengan pesawat komersial. Brown mengaku kaget dengan popularitasnya yang meningkat mendadak. “Aku tak tahu seperti apa para selebritis menangani popularitas mereka. Aku hanyalah penulis buku, namun terkadang bisa berubah menjadi tontonan sirkus ketika tampil di muka umum.”

Seperti kode-kode, hidup memang penuh rahasia. Dalam sekejap ia bisa berubah, bahkan dengan cara yang sangat dramatis.

5 thoughts on “DAN “THE DA VINCI CODE” BROWN

  1. Untuk menjadi penulis yang baik, harus ada penelitian. Diawali oleh inspirasi-inspirasi ringan yang perlu dikembangkan dengan penelitian lebih lanjut. Itulah gaya brown. Selamat menjadi penulis…

  2. The Da Vinci Code membongkar semua kebobrokan gereja dan kebohongan para paus tentang ketuhanan Yesus. Yesus adalah manusia agung yang memiliki akhlak dan kemampuan luar biasa. Oleh para kaisar Romawi kuno, dia kemudian dinobatkan sebagai tuhannya orang-orang Katolik. Walau sebenarnya Yesus tidak pernah mengangkat dirinya menjadi tuhan. Itulah kebodohan para Uskup Katolik. Dan para penganut agama Katolik tidak lain adalah manusia-manusia bodoh yang tidak pernah mau membuka mata dan mengakui kebenaran sejarah…

  3. Sebelum aku baca buku itu, aku nonton filmnya dulu. Aku agak kurang nyambung film itu, tapi aku paham tentang-entah sindiran atau fakta sejarah-beberapa bagian film yang membahas lukisan Leonardo Da Vinci. Tapi setelah aku baca bukunya, aku baru paham dan mengerti banyak. Tapi, kayaknya lebih lengkap membacanya daripada menonton filmnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s